Iya, aku hanya berfikir bahwa tak mungkin bisa untuk berkenalan dengannya. Aku sangat malu waktu itu. Aku sadar aku bukan siapa - siapa. Aku tak punya apa- apa. Jadi kubiarkan itu menjadi angan - angan saja. Berkenalan saja sudah tak mampu apalagi keinginan untuk memilikinya.
Beberapa bulan berlalu, akhirnya aku mengikuti kepanitiaan untuk HUT Fakultas ku. AKM 2013 itulah kepanitiaan yang aku ikuti. Sebelumnya aku rela tidak pulang untuk mengikuti seleksi kepanitiaan sebelum aku diterima di kepanitiaan tersebut di bidang Sie Acara. Pagi harinya aku mengenakan kemeja lengan panjang putih dengan celana cino coklat. Aku mendapat giliran pertama untuk di wawancarai. Aku menjawab semua pertanyaan dengan baik, tegas, dan bijak. Aku pun yakin aku akan lolos walaupun banyak juga yang mencari bidang tersebut sehingga harus dilakukan seleksi.
Seusai seleksi tersebut, aku duduk pada sebuah kursi tunggu di depan ruangan itu. Lalu berdiri dan duduk lagi sekedar untuk menenangkan diri melepas ketegangan saat di wawancarai. Ada seorang perempuan bertanya padaku tentang wawancara tadi. Aku menjawab dengan sedikit memberi tips untuknya. Setelah itu ia menjulurkan tangannya sembari mengajakku berkenalan. "Namaku Rama", jawabku. Ketika dia ingin menyebutkan namanya, seketika aku menyuruhnya berhenti dan biarkan aku untuk menyebutkan namanya. Aku berfikir keras, karena aku mengetahui nama panggilannya bahkan nama lengkapnya. Aku mengingat kejadian saat aku mencari namanya dari data yang aku unduh. Namun sayang, aku tetap saja lupa karena memang telah 2 bulan aku tak memperdulikan hal itu. Lalu teman disampingnya mengatakan bahwa namanya sama dengan nama perempuan itu. Intan, iya dia Intan dan aku ingat sekarang. Seandainya saja waktu itu aku menyebutkan nama lengkapnya pasti dia akan percaya bahwa aku benar - benar tertarik dari awal dengannya.
Saatnya pulang, dan aku cukup senang. Namun aku tetap berfikir bahwa itu hanya sekedar perkenalan saja. Tak mungkin aku bisa mendapatkan hal yang lebih meski aku berusaha.
Bulan berikutnya, rapat pertama kepanitiaan berjalan. Astaga, aku satu bidang dengannya. Hatiku senang karena aku memiliki kesempatan kecil untuk mendekatinya. Aku masih ingat dia mengatakan bahwa aku tidak mengganti bajuku dari pagi. Dan dia menertawaiku. Walaupun dia mengejekku tapi aku senang. Aku tak peduli bajuku. Dia memiliki sahabat sekaligus kakak baginya. Dia Gita orang yang tahu dan kenal dekat dengan Intan. Aku duduk disamping Gita. Aku meminjam bukunya untuk megibas - ibas badanku karena kepanasan. Sedikit berbicara padanya.
Rapat selesai, aku pun senang. Aku berfikir sahabatnya juga memiliki daya tarik tersendiri. Tapi aku tidak sampai berfikir sejauh itu. Beberapa minggu kemudian, rapat kembali diadakan namun kalau tidak salah ini hanya rapat sie acara saja jadi tidak ada bidang lain yang datang.
Baik, aku datang sedikit terlambat malam itu. Aku duduk lesehan di tempat paling belakang di lantai kampus. Tepatnya lantai 2. Sudah lama aku mendengarkan kakak - kakak senior berbicara hingga aku mengantuk. Iya mata merah, muka pucat serta lemas. Begitulah biasanya aku jika malam tiba. Tapi tidak selamanya seperti itu. Aku tak melihat Gita dan Intan yang baru saja aku kenal. Aku rasa mereka tak akan datang. Setelah lamanya rapat berlangsung, akhirnya mereka datang dengan tergesa - gesa. Mereka sangat terlambat. Mereka duduk juga di deretan paling belakang. Iya, tepatnya dibelakangku. Dan yang membuatku sedikit senang adalah, saat Intan akan segera duduk. Ia menyempatkan diri mencolek pinggangku. Dan membuatku terkejut. Wow, aku berfikir bahwa dia benar mencolek ku. Memang berlebihan tapi aku suka.
Beberapa bulan berlalu, akhirnya aku mengikuti kepanitiaan untuk HUT Fakultas ku. AKM 2013 itulah kepanitiaan yang aku ikuti. Sebelumnya aku rela tidak pulang untuk mengikuti seleksi kepanitiaan sebelum aku diterima di kepanitiaan tersebut di bidang Sie Acara. Pagi harinya aku mengenakan kemeja lengan panjang putih dengan celana cino coklat. Aku mendapat giliran pertama untuk di wawancarai. Aku menjawab semua pertanyaan dengan baik, tegas, dan bijak. Aku pun yakin aku akan lolos walaupun banyak juga yang mencari bidang tersebut sehingga harus dilakukan seleksi.
Seusai seleksi tersebut, aku duduk pada sebuah kursi tunggu di depan ruangan itu. Lalu berdiri dan duduk lagi sekedar untuk menenangkan diri melepas ketegangan saat di wawancarai. Ada seorang perempuan bertanya padaku tentang wawancara tadi. Aku menjawab dengan sedikit memberi tips untuknya. Setelah itu ia menjulurkan tangannya sembari mengajakku berkenalan. "Namaku Rama", jawabku. Ketika dia ingin menyebutkan namanya, seketika aku menyuruhnya berhenti dan biarkan aku untuk menyebutkan namanya. Aku berfikir keras, karena aku mengetahui nama panggilannya bahkan nama lengkapnya. Aku mengingat kejadian saat aku mencari namanya dari data yang aku unduh. Namun sayang, aku tetap saja lupa karena memang telah 2 bulan aku tak memperdulikan hal itu. Lalu teman disampingnya mengatakan bahwa namanya sama dengan nama perempuan itu. Intan, iya dia Intan dan aku ingat sekarang. Seandainya saja waktu itu aku menyebutkan nama lengkapnya pasti dia akan percaya bahwa aku benar - benar tertarik dari awal dengannya.
Saatnya pulang, dan aku cukup senang. Namun aku tetap berfikir bahwa itu hanya sekedar perkenalan saja. Tak mungkin aku bisa mendapatkan hal yang lebih meski aku berusaha.
Bulan berikutnya, rapat pertama kepanitiaan berjalan. Astaga, aku satu bidang dengannya. Hatiku senang karena aku memiliki kesempatan kecil untuk mendekatinya. Aku masih ingat dia mengatakan bahwa aku tidak mengganti bajuku dari pagi. Dan dia menertawaiku. Walaupun dia mengejekku tapi aku senang. Aku tak peduli bajuku. Dia memiliki sahabat sekaligus kakak baginya. Dia Gita orang yang tahu dan kenal dekat dengan Intan. Aku duduk disamping Gita. Aku meminjam bukunya untuk megibas - ibas badanku karena kepanasan. Sedikit berbicara padanya.
Rapat selesai, aku pun senang. Aku berfikir sahabatnya juga memiliki daya tarik tersendiri. Tapi aku tidak sampai berfikir sejauh itu. Beberapa minggu kemudian, rapat kembali diadakan namun kalau tidak salah ini hanya rapat sie acara saja jadi tidak ada bidang lain yang datang.
Baik, aku datang sedikit terlambat malam itu. Aku duduk lesehan di tempat paling belakang di lantai kampus. Tepatnya lantai 2. Sudah lama aku mendengarkan kakak - kakak senior berbicara hingga aku mengantuk. Iya mata merah, muka pucat serta lemas. Begitulah biasanya aku jika malam tiba. Tapi tidak selamanya seperti itu. Aku tak melihat Gita dan Intan yang baru saja aku kenal. Aku rasa mereka tak akan datang. Setelah lamanya rapat berlangsung, akhirnya mereka datang dengan tergesa - gesa. Mereka sangat terlambat. Mereka duduk juga di deretan paling belakang. Iya, tepatnya dibelakangku. Dan yang membuatku sedikit senang adalah, saat Intan akan segera duduk. Ia menyempatkan diri mencolek pinggangku. Dan membuatku terkejut. Wow, aku berfikir bahwa dia benar mencolek ku. Memang berlebihan tapi aku suka.
Aku pergi ke toilet sebentar untuk membasuh wajahku yang mengantuk. Saat kembali ke tempatku, ada seorang laki - laki yang menciba berkenalan dengan Intan. Aku melihatnya. Tapi aku senang dengan respon yang diberikan oleh Intan. Dia sedikit judes dan memang tidak ingin untuk berkenalan dengan laki- laki tersebut. Saat aku duduk kembali, laki - laki yang aku cukup kenal itu meminta ku untuk meminta nomor handphone nya. Ya, aku melihatnya bahwa memang dia menyukai Intan atau sahabatnya.
Rapat selesai, aku tinggal mengisi presensiku. Aku tak mau menyiakan kesempatan karena aku telah sedikit berbincang dengan Intan. Aku harus mendapatkan nomor handphone nya. Aku punya cara dan aku berkata pada Gita "Gita minta nomor hape mu dong ?" tanya ku. Dia memberi ku nomor handphone nya. Aku melihat bahwa Intan memperhatikan ku . Aku manfaatkan kesempatan itu untuk meminta nomor handphone nya juga agar tidak terlihat suka. Sebenarnya aku ingin nomor handphone Intan, tapi memang harus berpura - pura meminta nomor handphone Gita agar tidak terlalu terlihat jelas aku menginginkan nomor Intan. Namun, saat aku bertanya pada Intan justru ia tidak memberitahuku. Dia menyuruhku untuk mencari sendiri. Baik, aku cari sendiri. Aku ambil kertas presensi yang berisi nama dan nomor handphone nya. Saat itu aku catat. Lalu aku hafalkan. Iya, aku hafalkan dan aku sudah hafal. Aku panggil dia sebelum ia beranjak pulang, lalu aku sebutkan nomor handphonenya. Dan dia tersenyum saja. Ya sudah aku tak peduli. aku simpan saja. Lalu aku pergi menuju temanku yang menungguku.
Saat itu aku akan berjalan lewat lorong FTK dan kebetulan Intan dan sahabatnya juga lewat jalan yang sama. Saat itu aku berhenti dan melihatnya menuju ke arahku sambil melewatiku dan berkata " oh jadi Rama gitu sekarang ohh" canda nya padaku. Saat itu aku senang sekali walaupun dia bercanda tapi itu membuatku senang. Ya sudah aku balas dengan "oh jadi kamu skarang sama dia oh gitu" jawabku. Entahlah, kita bercanda seperti itu seakan - akan cemburu. Tapi itu bercanda dan aku senang. Sampai dirumah aku akan mengirimanya pesan singkat. Dan akan kumulai ceritaku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar